TULANG RUSUK TAKKAN TERTUKAR

Oleh: Miftakhul Jannah

            Sejak SMA Tania menyukai Rio, teman sekelasnya. Awalnya  mereka hanya teman biasa. Seolah takdir tanpa tanda, mereka menjadi sangat akrab satu tahun setelahnya  sebab  menjadi bintang kelas dan sering mengikuti bimbingan matematika bersama

            Tania adalah cewek imut, berkacamata, pintar dan aktif. Sedangkan Rio adalah cowok tinggi, putih, pintar dan berani. Sejak saat itu Tania dn Rio sering mengobrol bersama, bahkan Rio juga sering mengantar Tania pulang karena mereka harus pulang sore karena bimbingan matematika. Mereka tak pernah menanyakan apapun tentang perasaan mereka sampai mereka lulus SMA.

            Setelah kenaikan kelas 12 Rio memilih ikut ayahnya yang sedang bertugas di luar kota. Rio tak pernah memberi tau Tania soal ia akan bersekolah di luar kota.

            “Rio kenapa kamu nggak ngomong kalau kamu bakalan sekolah di luar kota?” Tanya Tania saat hari terakhir Rio bersekolah di sekolah yang sama bersama Tania.

            “Maaf Tan… kamu jaga diri baik-baik ya” Kata Rio

            Sejak saat itu Tania menjadi sedikit pendiam dan sering melamun, ia merindukan Rio yang tak ada kabar selama kurang lebih 4 tahun.

***

            Setelah lulus SMA Tania, melanjutkan ke Universitas Negeri Malang dengan jurusan pendidikan matematika, ia sangat berharap Rio juga kuliah disana.

 Reuni sekolah SMA digelarkan, namun Tania tak melihat sosok Rio disana. Ia bertemu dengan Yudi sahabat Rio dari SD. Tania pun tak segan-segan menanyakan tentang Rio.

            “Yud, Rio gimana kabarnya?”

            “Alhamdulillah baik, kemarin dia menelponku Tan”

            “Oh ya? Dia ngomong apa saja?”

            “Rio cerita soal pacarnya yang sering ngambek, dia minta tipsnya ke aku” Kata Yudi

            Seketika itu tubuh Tania rasanya membeku seperti bongkahan es, ia mendadak berubah menjadi kaku. Yudi mengerti dan merasakan apa yang dirasakan Tania meskipun ia tak pernah menceritakan apapun tentang perasaannya.

            “Rio pasti kembali Tan, sabar ya”

***

            Sejak saat Yudi bilang seperti itu  ke Tania, Tania mulai melupakan semua tentang Rio, kenangan bersama Rio, begitupun dengan perasaannya kepada Rio. Ia lebih memilih fokus ke kuliahnya yang hampir selesai dan tentu jauh lebih penting daripada Rio.

            Tania sangat semangat mengerjakan skripsinya tanpa ada bayangan Rio yang melintas, kalaupun ada dia merenung sejenak lalu mengabaikannnya.

            Skripsi Tania sudah selesai dan kini ia tinggal wisuda. Pada saat wisuda bayangan Rio kembali melintas di benak Tania. Tania sangat rindu dengan Rio, ia tak bisa melupakannya. Ah, sekedar ilusi.

            Seusai wisuda Tania melihat seorang laki-laki di depan pintu membawa bunga mawar merah. Saat Tania akan melewati pintu, pria itu langsung jongkok di hadapan Tania lalu medongakkan kepalanya dengan tersenyum dan memberi bunga itu kepada Tania sambil berkata “Tania aku ingin ta’aruf denganmu”

            Tania sangat kaget dengan semuanya, ini seperti mimpi. Laki-laki itu adalah Rio, seorang yang dinantikannya selama bertahun-tahun. Rio menceritakan semuanya, Rio juga sebenarnya tidak pernah punya pacar, itu hanya siasat. Tania tak menyangka inilah takdirnya. Sungguh takdir yang sangat indah. Semua skenario hidup kita telah tercatat dalam Lauhul MahfudzNya dan itu takkan tertukar dengan milik orang lain.