PAHIT MELANGIT

Oleh: Hidayatus Sholihah

            Malam itu terasa menusuk tulang. Sepulang Ica dari kota rantau, ia selalu menanti momen dimana bisa mengobrol santai bersama ayah dan ibunya. Makan malam menjadi hal yang sangat ditunggu oleh Ica, sebab dari situ ayah dan ibunya selalu mampu memotivasi Ica. Ayahnya pun menyelipkan pembicaraan di tengah makan malam mereka.

            “Ca, bagaimana kuliahmu? Lancar kan? Ini ayah ada rekomendasi kursus bahasa buat kamu Ca, banyak yang bilang kursus ini sangat cocok untuk yang ingin mendalami bidang bahasa Arab maupun Inggris” ucap Ayah Ica.

            Ayahnya mengetahui perihal info kursus ini dari salah satu temannya. Karna ayahnya tau Ica sangat ingin mengikuti kursus bahasa, namun selalu saja ada kendala biaya dan juga waktu, mumpung sekarang lagi libur semester ayahnya menawarkan kursus ini padanya.

            “Wah, kursus dimana yah? Tapi kan biaya kursus itu juga tidak murah, Yah” sahut Ica sambil mengambil air putih.

          “Di kota pahit Ca, dekat kok dari sini. Soal biaya kamu tidak usah khawatir, alhamdulillah ayah ada rezeki untuk biaya kursus kamu. Ayah tau kalau kamu sangat membutuhkan waktu belajar yang lebih intens Ca” ucap ayahnya.

          Ica, gadis yang disebut orang sekitarnya memiliki banyak talenta, padahal ia menyadari masih sangat banyak kekurangan pada dirinya. Sebagian orang yang sudah lama mengenalnya, menyebutnya seorang yang kharismatik dan humble. Keinginannya untuk kursus bahasa selalu Ica sembunyikan dari orang tuanya, karena Ica tau biaya kursus itu tidak murah ditambah dia juga banyak kegiatan di kampusnya membuat Ica semakin tidak yakin untuk bisa ikut kursus. Namun, selalu saja ada jalan selama tujuannya itu baik dan untuk menambah ilmu. Tanpa berpikir panjang, Ica langsung mengiyakan tawaran ayahnya dan bergegas menyiapkan semua keperluan yang akan dia bawa esok hari.

            Siang terik itu sangat menyengat kulit, iyaa sangat menyengat! Ica dibonceng ayahnya mengendarai sepeda motor bebeknya yang memang sudah tua itu bersama dengan barang bawaannya yang banyak sekali, satu tas besar ditaruh di bagian depan sepeda dan satunya lagi dibawa dipundaknya.

     Beberapa menit berlalu, akhirnya Ica dan Ayahnya sampai juga di kota pahit itu, kumandang adzan dhuhur sudah terdengar. Sembari istirahat sejenak, Ica dan Ayahnya berhenti di sebuah surau kecil tapi makmur. Mungkin karena tempatnya pun dekat dengan maskan (tempat tinggal) anak-anak kursus disitu. Karena di kota pahit ini terbagi menjadi 2 bagian kursus bahasa, yaitu kursus bahasa Arab dan kursus bahasa Inggris.

            Setelah beberapa lama, Ica dan Ayahnya sudah selesai sholat dhuhur dan mereka pun langsung mengendarai sepeda motor bebeknya lagi dan menuju ke pusat dauroh (kursus) Al-Azhar. Dauroh itu terletak di jalan Cempaka, iyaa teman-teman yang sudah lama berada di kota pahit itu memanggil maskannya dengan sebutan maskan cempaka. Yaaa, mungkin karena letaknya yang berada di jalan Cempaka. Dan terdapat cabang maskan yang terletak di jalan Nusa Indah, letaknya lumayan jauh dari kantor pusat dauroh Al-Azhar.

          Di daerah yang mungkin sudah tak asing lagi dimana orang akan belajar, menuntut ilmu, mengasah kemampuan, mengenal budaya, dan juga berbaur dengan banyak orang pendatang. Iya, kota yang terkenal dengan sebutan ‘kampung inggris’ ini sepertinya sudah tak asing lagi ditelinga khalayak ramai. Kota yang dikenal dengan nama buah pahit ini nampaknya sudah melanglang buana ke luar pulau bahkan luar negeri. Pare, dia adalah kota kenangan dimana selalu saja ada jejak yang tertinggal disana. Selama 2 pekan merupakan waktu yang cukup singkat untuk belajar dan mengenal budaya disana, bertemu dengan banyak orang hebat dari luar pulau bahkan luar negeri.

            Sesampainya di depan pusat dauroh Al-Azhar, Ica dan Ayahnya langsung beranjak masuk ke dalam kantor untuk menyelesaikan registrasi berkas. Kantor dauroh yang sangat bersih, rapi, dan hampir semua dinding dipenuhi dengan poster berbahasa Arab itu membuat Ica tak berhenti memandangi satu persatu poster yang ada di dinding itu. Bahkan, sesaat sebelum Ica memasuki ruangan, tertempel tulisan cantik pas di tengah pintu masuk kantor, yang membuat Ica semakin bersemangat untuk segera bergabung belajar bersama teman-teman lainnya.

            Tak lama kemudian Ica langsung masuk ke dalam kantor bersama ayahnya, dengan membawa tas kopernya yang penuh dengan baju, dan keperluan selama Ica berada di kota pahit ini. Terlihat dari dalam, ada satu anak perempuan yang seumuran Ica menunggu registrasi. Tak lama kemudian Ica masuk ke dalam dauroh dan bertemu dengan anak perempuan itu.

          “Aku Ica Maharani, asli kota santri” sapaku. Gadis itu agak tertunduk malu, sembari membawa koper besarnya dan satu tas mungilnya di pundak. “Oiya, aku Afi Sukma asli Riau” jawabnya sambil membawa bukti administrasi.

            Selang beberapa menit, Ica dan gadis asli Riau itu diantar ke maskan, tempat dimana Ica dan gadis itu akan tidur, makan, istirahat, belajar, dan menghabiskan banyak waktu disana. Iyaa, panas mentari pun semakin menusuk kulit.  Beberapa menit berlalu, akhirnya Ica dan Afi sampai di maskan tempat dimana mereka akan tinggal selama 2 minggu.

            “Mbak Ica dan mbak Afi sudah boleh turun, itu maskan kalian” sahut sopir dauroh itu. Ica dan Afi pun langsung turun dengan membawa tas besar dan koper mereka masing-masing. Setibanya di depan maskan, Ica dan Afi menenteng koper dan tas besar mereka.

            “Kok sepi sekali ya? Seperti tak berpenghuni ya Fi” ucap Ica setibanya di sana. Tiba-tiba ada wanita berhijab panjang keluar dari dalam maskan dan menyambut kedatangan Ica dan Afi.

            “Wah, ini pasti Ica dan Afi ya? Ayo silakan masuk, kalian pasti lelah dan butuh istirahat” ucap wanita itu. Kamar kalian berada di pojok sana ya” ucap wanita itu.

            Di dalam kamar itu ada seorang anak yang tertidur pulas, dan seorang lagi sedang asyik main HP. “Wah, iya kak silakan masuk” ucap salah seorang di kamar itu. Untuk memecah keheningan, Ica dan Afi pun mencoba untuk mencairkan suasana. “Sudah datang dari kemarin ya kalian?” tanya Ica. “Iya nih mbak, kami sudah datang dari semalam” jawabnya. “Wah, pantas saja. Oiya perkenalkan aku Ica Maharani. Biasa dipanggil Ica asal kota Santri, tapi terserah  yang manggil juga bisa dipanggil Maha, atau Rani” ucap Ica sambil tertawa kecil.

            “Dan aku Afi Sukma, asal Riau” sahut Afi. Mereka pun  tak lama sudah sedikit akrab, dan sedikit bercanda.”Waah iya, senang sekali bisa kenal kalian. Aku Ana Amelia, bisa dipanggil Ana, asli Makassar” ucap gadis cantik itu. “Dan aku Atma Wijaya, bisa dipanggil Atma asli sama dengan Ana” sahut gadis imut itu.

        Keesokan harinya, anak-anak di maskan mengikuti tes penempatan kelas. Pengumuman penempatan kelas akan diumumkan hasilnya setelah sholat maghrib berjama’ah. Sesaat waktu sholat maghrib tiba, dan anak-anak di maskan itu semakin tegang dengan hasil tes pagi tadi. Akankah mereka yang sekamar akan sekelas juga sewaktu kursus. Ustadzah Aisyah menyebutkan hasilnya satu persatu, dan sampailah pada nama-nama Ica, Afi dan Ana ternyata sekelas. Sedangkan Atma dan Atika berbeda kelas dengan mereka. Atika salah seorang anak kamar yang jail dan kadang juga suka membully, walaupun terlihat seperti bercanda tapi kata-katanya sangat menggores kalbu.

            Sesaat mereka masuk ke kamar dan bersiap istirahat untuk mengikuti kelas pertama esok hari. Waktu sudah menunjukkan pukul 05.00 pagi, antrian mandi pun seperti rel kereta api. Bagaimana tidak? Karna penghuni maskan yang banyak tak seimbang dengan jumlah kamar mandi yang tersedia di maskan, jika tidak ingin antri ya harus bersiap mandi dari jam 3 pagi. Lonceng kelas pun berbunyi menandakan kelas akan segera di mulai. “Ayo Ica, ini sudah hampir telat loh” ucap Afi dan Ana. Ica memang sangat senang memasak, hampir setiap pagi sebelum berangkat kursus dia selalu menyempatkan membantu bu Dina memasak di dapur. Sampai ia tak menyadari kalau sering telat masuk kelas gara-gara membantu ibu Dina memasak di dapur.

            Sudah hampir seminggu Ica berada di kota pahit itu, dia mengikuti kursus setiap harinya. Meskipun banyak rintangan yang harus Ica hadapi, tapi Ica selalu berusaha semaksimal mungkin agar tidak mengecewakan orang tuanya. Terlebih lagi, dia harus menghadapi beberapa temannya di kelas kursus yang suka membully Icha karena dia bukan tipe anak yang suka bergaul dengan teman-teman sombong, dan suka membully. Tapi Ica selalu saja jadi bahan bully Rania dan teman-temannya. Untungnya ada Ana, Afi, dan juga Atma teman sekamarnya yang sangat peduli pada Ica.

            Hingga suatu ketika, Ica difitnah oleh Rania dan teman-temannya. Sehingga terancam dikeluarkan dari asrama dan juga dauroh. “Ica Maharani.. Ica absen kah dia?” ujar tentor di kelas itu. Tak lama kemudian, teman sebangkunya menyahut, “Dia masih perjalanan ustadzah” ungkapnya.

              “Tok..tok.. tok, permisi Ustadzah, maaf saya telat lagi,” sahutnya.

            “Telat lagi?” sudah berapa kali kamu telat masuk kelas saya?!” ujar si tentor. “Hmm, maaf ustadzah tadi saya masih ada tanggungan hafalan sama bantuin masak buat sarapan di maskan” jawabnya sambil mengeluarkan buku catatannya dari dalam tas.

            Di dalam kelasnya ada seorang anak yang terkenal sebagai gadis sultan. Tak jarang yang jadi korban bully si gadis sultan ini, iyaa teman-teman memanggilnya gadis sultan. Karena, penampilannya yang mewah di manapun dan kapanpun. Dia punya segalanya, karena dia memang terlahir dari keluarga berada. Tapi hal itu membuatnya jadi tambah sombong, seolah tak ada yang mengalahkan kepopulerannya karna harta orang tuanya. Ica selalu menjadi sasaran bully-an nya di dalam kelas, karena tidak mau bergabung dengan geng gadis sultan itu.  Rania selalu saja merasa punya segalanya, karena ayahnya adalah salah satu donatur terbesar di dauroh itu, dia main seenaknya sendiri membully teman-teman yang dia rasa tidak mau menuruti perintahnya dan menyaingi kepopulerannya.

      “Rania Kalista, kamu dipanggil ke kantor dauroh menemui ustadz Ahmad” sahut temannya yang berjalan di belakang dia.

             “Aku? Tidak mau, siapa yang berani menghukum anak donatur terbesar di dauroh ini,” ujarnya.

            Tiada yang bisa menguatkan diri sendiri, kecuali kita sendiri. Itu merupakan hal yang selalu dipegang teguh oleh Ica. Meskipun ada seorang ustadz, salah satu tentor di dauroh itu yang selalu memberi semangat dan motivasi buat Ica.

           “Kamu gadis yang kuat Ca, saya yakin kamu pasti bisa melewati semua ini” ucap ustadz itu sambil membawa kitab ke arah dauroh.

            “Terima kasih banyak Ustadz, saya yakin pasti bisa mengatasi semua permasalahan ini. Kunci yang selalu saya ingat dari ayah saya, bahwa setiap orang hidup pasti akan menemukan banyak masalah dan justru dari masalah-masalah itu menjadikan kita seseorang yang lebih kuat dan lebih baik dari sebelumnya” sahut Ica sembari berjalan pelan ke arah maskan.

            Hari-hari pun terus berlanjut, Ica semakin tidak tahan berada di kelas karena ada teman di kelasnya yang suka membully dan selalu saja mencari-cari kesalahan Ica. Begitupun di kamar, ada seorang anak kamar yang juga suka membully karena iri pada Ica, karena dia menjadi anak andalan di maskan. Siang itu memang hari libur, jadi tidak ada kursus dan semua kegiatan maskan juga bebas. Agar anak-anak di maskan bisa berlibur dan tidak jenuh memikirkan kursus. Yaa, meskipun setiap malam selalu ada setorn hafalan mufrodat (kosa kata) yang tak pernah libur. Karena akan ada penghargaan khusus bagi anak dauroh yang bisa tuntas hafal 1000 mufrodat selama sepekan dan nilai mumtaz (sempurna) sewaktu ujian pelajaran dauroh seminggu setelah ujian mufrodat. Ica yang jenuh berada di maskan karena tak tahan dengan kata-kata pedas yang selalu dilontarkan salah seorang temannya di kamar itu.

            Sesaat, mata tertuju ke arah parkiran sepeda mungil itu. Ica tak peduli dengan sindiran tajam si Atika salah seorang teman kamarnya. “Mau ke mana Ca?” tanya Ana. Sembari beranjak dari teras, Ana berjalan ke arah parkiran dan membawa sepedanya, lalu ia membuka pintu gerbang dengan perlahan. “Aku keluar dulu, tidak usah dicari nanti sore juga pulang!” teriaknya sambil menggayuh sepeda mungilnya itu dengan kuat. Sambil membawa roti tawar yang sudah terisi selai nanas, Ica berjalan seperti orang mau lari maraton.

            Padahal esok hari waktunya ujian dauroh. Karna Ica sudah berhasil lolos di ujian mufrodat, tinggal mengikuti ujian dauroh serentak. Ana, Afi dan Atma selalu menghubungi Ica, mereka tak lelah mengingatkan Ica untuk pulang karena dia harus bersiap mengikuti ujian dauroh esok harinya. Sebelum waktu salat maghrib Ica sudah berada di maskan. “Ica, kamu dari mana saja sih dari tadi kami telepon tidak diangkat. Kami kan khawatir ke kamu Ca” ucap Afi, Ana dan Atma serentak. Ica masuk sambil membawa martabak manis kesukaan teman-teman kamarnya itu.

            “Ini kalian makan dulu, aku sengaja belikan ini untuk kalian. Terima kasih ya teman-teman kalian sudah khawatir ke aku, aku hanya ingin mencari udara segar saja karna ada kejadian tidak enak tadi pagi, dan aku ingat kalau besok ujian dauroh serentak makanya tadi juga sekalian ke perpustakaan yang ada di ujung kota ini untuk pinjam buku, karena buku yang kupunya masih sangat minim.” jawab Ica sambil membawa buku-buku yang dia pinjam dari perpustakaan.

            Wisuda dauroh, akhirnya sampai juga di hari yang ditunggu-tunggu seluruh warga dauroh itu. Ica Maharani adalah nama pertama yang disebut oleh kepala dauroh Al-Azhar dengan prestasi murid kursus terbaik di dauroh Al-Azhar tahun 2019 periode bulan Juni. Akhirnya Ica mampu membuat bangga orang tuanya dan dia juga mendapat penghargaan khusus karena mampu menghafal 1000 mufradat dalam waktu seminggu.

              Tak disangka juga Rania dan teman-temannya pun memberi ucapan selamat pada Ica sekaligus meminta maaf atas semua kesalahannya yang suka membully dan juga memfitnah Ica. Pada akhirnya Rania dan teman-temannya mengakui bahwa harta bukanlah segalanya, walaupun dia punya banyak harta tapi tidak semua hal bisa dibeli dengan harta, termasuk ilmu dan juga kualitas diri.

            Banyak pelajaran hidup yang bisa Ica ambil selama berada di Kota Pahit itu, dan terlebih tujuan awalnya untuk kursus bahasa itu ternyata tak hanya berakhir di situ saja. Ica berhasil mengantongi banyak peristiwa yang bisa dia jadikan pelajaran hidup. Dimana akan ada hikmah di setiap peristiwa yang terjadi dan mampu Ica jadikan inspirasi berharga untuk kehidupannya mendatang. Pahit itu melangit! Iya, kota pahit itu melangitkan pelajaran hidup berharga yang jejaknya tertinggal manis di sana.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *